Jumat, 27 Agustus 2010

Pasifik Barat Daya merupakan salah satu teater perang di kawasan Pasifik, antara tahun 1942-1945. Pasifik Barat Daya termasuk Filipina, Hindia-Belanda (tak termasuk Sumatera), Borneo, Australia, Wilayah Guinea Baru (termasuk Kepulauan Bismarck), bagian barat Kepulauan Solomon, dan beberapa wilayah di sekitarnya. Teater tersebut mendapatkan nama dari komando Sekutu, yang dikenal secara sederhana sebagai "Daerah Pasifik Barat Daya".
Dalam teater tersebut, angkatan Kekaisaran Jepang berperang melawan angkatan AS dan Australia. Angkatan Belanda, Filipina, Britania Raya, dan Sekutu lainnya juga terlibat dalam pertempurant tersebut.
Sebagian besar angkatan Jepang dalam teater tersebut merupakan bagian dari Kelompok Pasukan Ekspedisi Selatan, yang dibentuk pada tanggal 6 November 1941, di bawah Jend. Hisaichi Terauchi (juga dikenal sebagai Graf Terauchi), yang diperintahkan untuk menyerang dan menduduki wilayah Sekutu di Asia Tenggara dan Pasifik Selatan.
Pada tanggal 30 Maret 1942, komando Wilayah Pasifik Barat Daya Sekutu (SWPA) dibentuk dan Jend. Douglas MacArthur diangkat sebagai Komandan Tinggi Sekutu untuk Wilayah Pasifik Barat Daya 







  Strategi ini efektif menutup nasib Filipina dan orang-orang yang tertangkap di Bataan. Jendral Mcarthur melarikan diri ke Australia. setelah 4 bulan terperangkap, AS dan Filipina menyerah kepada Jepang. Sebuah kekalahan terbesar dalam sejarah Amerika.

Jepang menyiksa dan membunuh para tawanan perang di Bataan. Yang masih hidup dikumpulkan di kamp-kamp tawanan berbeda. O'Donnell, Cabanatuan,dan Palawan. Jepang menganggap aib orang yang menyerah dan memperlakukan POW/tawanan perang dengan sangat kejam.

1944 perang berubah arah. Amerika menguasai banyak peperangan. 1 Agustus 1944, Jepang mengumumkan kebijakan perangnya "Bertujuan agar jangan sampai melarikan diri, binasakan semua dan tidak meninggalkan jejak."

Akhir Januari 1945 selama, direncanakan sebuah penyelamatan para tawanan perang di Cabanatuan. 2 orang yang dianggap berjasa dalam penyelamatan ini adalah Capt. Robert Prince dan Lt. Col. Henry Mucci. Dimana Prince sebagai ahli strategi dan Mucci sebagai komandan pasukan.

Dengan jumlah pasukan yang tidak seimbang selama lima hari dijalankan rencana dan eksekusi penyelamatan. Tercatat ada sekitar 500 tawanan perang yang harus diselamatkan dari Camp Cabatuan, satu kesulitan selain jumlah pasukan yang tidak berimbang adalah letak kamp yang sedatar lapangan bola. Dimana penjaga kamp bisa mengintai dari ketinggian. Tidak ada jalan kembali pulang, mereka memulai aksi pada malam hari untuk sebuah catatan sejarah perang.




 gambar warna di atas d ambil dari:


 Film produksi tahun 2005 ini diangkat berdasarkan kisah nyata perang di Cabanatuan. Didukung oleh Benjamin Bratt dan James Franco.




1. Latar belakang

1 batalion Divisi Infantri 48 dari Tentara Kekaisaran Jepang mendarat di Bali pada tanggal 18 Februari 1942.
AL Laksamana Doorman tersebar di seluruh Hindia Belanda, namun serangan Bali tak dapat diabaikan — yang akan memberikan Jepang pangkalan udara dalam kisaran markas AL ABDA di Surabaya — seringga ia mengirimkan semua kapal yang tersedia. Peringatan pendek tak memberikan waktu untuk mengkonsentrasikan kapal-kapalnya; karena itu beberapa angkatan Sekutu diserang oleh Jepang.
Kapal Sekutu yang pertama bertempur adalah kapal selam USS Seawolf dan HMS Truant yang menyerang 
USS Seawolf
HMS Truant
konvoi Jepang pada tanggal 18 Februari namun tak membuat kapal lawan rusak dan dihalau oleh bom laut dari kapal pemburu Jepang. Kemudian di hari itu 20 pesawat United States Army Air Forces menyerang konvoi itu namun hanya dapat merusak kapal pengangkut Sagami Maru.
United States Army Air Forces
Jepang sadar bahwa konvoi serbu mereka mungkin diserang lagi, sehingga mereka menarik diri seutara mungkin. Kapal penjelajah Nagara dan kapal pemburu Wakaba, Hatsushimo and Nenohi lebih baik pergi dan tak ikut serta dalam aksi itu. Kapal terakhir yang tinggal adalah 2 kapal pengangkut, masing-masing dikawal oleh 2 kapal pemburu. Sasago Maru dikawal oleh Asashio dan Oshio; Sagami Maru yang rusak parah dikawal oleh Michishio dan Arashio.
Tentara jepang


 

2. 2.Pertempuran

HNLMS De Ruyter
HNLMS Java
USS John D. Ford
USS Pope,
Kelompok Sekutu yang pertama, terdiri atas kapal penjelajah HNLMS De Ruyter dan HNLMS Java dan kapal pemburu USS John D. Ford, USS Pope, dan HNLMS Piet Hein, melihat Jepang di Selat Badung sekitar pukul 22:00 dan melepas tembakan pada pukul 22:25 pada tanggal 19 Februari. Tidak ada kerusakan yang ditimbulkan dalam tembak-menembak ini, dan 2 kapal penjelajah Belanda terus melintasi selat itu ke timur laut, untuk memberi bantuan bebas dan berhadapan dengan torpedo. Lalu Piet Hein, Pope dan John D. Ford masuk ke kisaran itu. Pada pukul 22:40 sebuah torpedo laras panjang dari Asashio menghantam 'Piet Hein, segera menenggelamkan kapal pemburu Belanda itu. Asashio dan Oshio kemudian terlibat baku tembak dengan Pope dan John D. Ford, memaksa kedua kapal pemburu milik AS itu mundur ke tenggara daripada mengikuti kapal penjelajah itu ke timur laut.
Di kegelapan, Asashio dan Oshio salah mengira satu sama lain dan saling menembak satu sama lain selama beberapa menit tanpa kerusakan apapun.
Sekitar 3 jam kemudian kelompok kapal ABDA yang kedua — kapal penjelajah HNLMS Tromp dan kapal pemburu USS John D. Edwards, USS Parrott, USS Pillsbury, dan USS Stewart — mencapai Selat Badung. Pada pukul 01:36 Stewart, Pillsbury dan Parrott meluncurkan torpedo namun tak merusak apapun. Lalu Oshio dan Asashio menyerang mendadak lagi dan ada baku tembak senapan lainnya. Tromp dihantam oleh 11 granat 5 inci dari Asashio, membuatnya rusak parah (kapal itu kemudian kembali ke Australia untuk diperbaiki), dan menghantam 2 kapal pemburu Jepang, membunuh 4 orang di Asashio (kapal itu hanya menderita sedikit kerusakan) dan 7 di Oshio.
laksamana kyubi Kubo bersama pasukan
Arashio dan Michishio telah diperintahkan oleh Laksamana Kyuji Kubo untuk memutar balik, dan sekitar pukul 02:20 mereka bergabung dengan pertempuran itu. Michishio dihantam granat dari Pillsbury, John D. Edwards dan Tromp, membunuh 13 ABK-nya dan melukai sebanyak 83 orang. Kapal itu tidak bisa cepat dan harus digandeng setelah pertempuran itu. Kedua kelompok kapal itu berbalik pergi, dan pertempuran itu selesai.
Kelompok ketiga ABDA — 7 perahu torpedo — tiba di Selat Badung sekitar pukul 06:00 namun tak bertemu kapal Jepang manapun.

3. Kejadian setelahnya

Pertempuran itu menjadi kemenangan berarti bagi Jepang. Letnan Komandan GorĊ Yoshii dari Asashio dan Komandan Kiyoshi Kikkawa dari telah menunjukkan keberanian dan kecakapannya yang besar. Mereka telah menghalau angkatan Sekutu yang lebih besar, menenggelamkan kapal pemburu Piet Hein dan membuat kerusakan parah pada kapal penjelajah Tromp, memungkinkan kerusakan kecil di pihak mereka, dan melindungi kapal pengangkutnya.
Garnisun Bali yang terdiri atas 600 milisi Indonesia tak mengadakan perlawanan apapun kepada Jepang, dan lapangan udaranya dapat ditaklukkan secara utuh. Jepang melanjutkan penaklukannya atas Hindia Belanda dengan penaklukan Timor pada tanggal 20 Februari - 23 Februari. Angkatan ABDA yang bertempur di Selat Badung dikalahkan secara telak dalam Pertempuran Laut Jawa pada tanggal 1 Maret 1942, di mana kapal penjelajah Belanda Java dan De Ruyter ditenggelamkan dan Laksamana Doorman gugur. Tromp berhasil kabur dari situ, untuk ditarik ke Australia untuk diperbaiki dari kerusakan akibat pertempuran di Selat Badung. Kapal pemburu Stewart diperbaiki di Soerabaia, di mana kemudian kapal ini diambil oleh Jepang dan dikanibal sebagai kapal patroli P-102 mereka.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar